Sunday, May 29, 2016

(Jangan) Baper Nonton AADC 2

Heihoy kembali lagi dengan tulisan edisi bulan Mei.

Kali ini aku mau membahas tentang film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) yang baru aku tonton minggu lalu*kok telat banget baru nonton *bodo weeeee.. biar lambat asal bersama*

Berdasarkan review dan cerita teman-temanku film ini bakal bikin kita baper (bawa perasaan), galau,  dan ekstrimnya kembali menghubungi "dia yang jadi kisah lama yang belum berakhir" untuk sekedar berkata "hai apa kabar?".

Berpuluh-puluh purnama *tepatnya 14 tahun* berlalu bagi Cinta dan Rangga untuk menyelesaikan urusan yang katanya belum selesai. Kalau kata meme yang sering beredar di jagad dunia maya , antara Cinta dan Rangga terjadi situasi dimana "karena hai setitik, rusak move on sebelangga".

Ada beberapa hal yang menurutku yang jadi alasan untuk (jangan) baper nonton AADC 2, yaitu:
1. Setting film di Jogjakarta.
Jogjakarta itu ibarat 15% angkringan dan burjo penyelamat jiwa, 35% rumah kedua, dan 50% kenangan. Bergelar sebagai kota pelajar yang dipenuhi mahasiswa dan alumni gagal move on tentu Jogjakarta memiliki tempat tersendiri di hati para pencintanya.

Sekelumit gambar tentang Jalan Malioboro, Jalan Prawirotaman, Candi Ratu Boko, Papermoon Puppet Theater yang sering pentas di LIP Jogja, Gudeg, Sate Klathak di Pasar Imogiri, dan tempat lainnya tentu akan melengkungkan garis senyum bagi para pencinta Jogjakarta.

2. Persahabatan
Di film ini digambarkan Cinta masih bersahabat bagai kepompong dengan Milli, Carmen, Mauri dan Alya (walau Alya digambarkan meninggal di tahun 2010). Tidak banyak persahabatan yang bisa bertahan lama. Akan terasa aneh ketika kita bilang "oh, dia sahabat ku waktu smp/sma/kuliah." Lah wong sahabatan kok ada jangka waktunya. Kalo kata orang (sok) bijak "lebih baik punya 1 orang sahabat sejati daripada 100 orang teman yang hanya datang saat senang."

Tidak banyak orang yang beruntung memiliki sahabat dalam hidupnya. Yang terpenting menurutku adalah persahabatan itu terjalin ketika walau terpisah jarak, tidak bisa ada di setiap waktu, namun mereka saling membutuhkan, saling mencari dan bertumbuh bersama.

Waktu mengubah cara pandang kita, memperluas dimensi pikiran, sahabat yang baik bukannya menghambat namun ikut bertumbuh bersama dan terus menjaga.

3. Kisah yang tak kunjung usai
Cinta dan Rangga mungkin menggambarkan beberapa kisah yang pernah terjadi. 
- Bagaimana letupan rasa di masa muda terputus begitu saja tanpa penjelasan. 
- Bagaimana alasan "belum siap" didengungkan untuk tameng alasan lain di baliknya. 
- Bagaimana kata "kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku" begitu klise untuk menjadi alasan pergi (bahkan Cinta juga bilang seperti ini).
- Bagaimana pergi merupakan pilihan pertama akan hal yang dapat dibicarakan terlebih dahulu.

Mas Rangga dengan sukses menggambarkan pemikiran sosok lelaki 23 tahun dengan kondisi masih meraba-raba tentang masa depan dan kemudian disudutkan dengan pertanyaan "jangan biarkan Cinta menunggu terlalu lama". Di adegan ini bisa tergambarkan kegalauan untuk bertahan atau menyerah tanpa mencoba.

Mba Cinta pun wajar untuk marah karena tidak mendapatkan kesempatan untuk memperoleh penjelasan namun hanya memperoleh sepucuk surat.

Selain 3 hal diatas, menurutku ending film ini terlalu dipaksakan untuk memenuhi keinginan para fans yang ini melihat Cinta dan Rangga kembali bersatu. Cinta yang katanya sudah move on dan menikmati kehidupan barunya begitu mudah untuk goyah kembali kepada Rangga.

Ya apapun pilihan kalian dalam menjalani hidup dan kisah-kisah semacam ini, makanyaaa (Jangan) Baper Nonton AADC 2..
hahaha..

-diselesaikan setelah terpendam 1 minggu lamanya-
290516

Friday, May 20, 2016

Sendiri

Berlari ku coba mendekat mu.

Namun hanya bayang yang kulihat.

Kisah kita terangkat dalam hamparan tanpa batas.

Terpisah dalam ruang dan kata.

Aku menghilang dalam pasir hisap yang terbentang.

Hanya terdiam tanpa mampu berbuat.

Langkah mu terbuat dalam kecepatan cahaya.

Meninggalkanku.

Sendiri.

Home. Diselesaikan 270516

Sunday, April 3, 2016

Kesederhanaan

Heihoy.. lama banget rasa nya aku ga menulis disini.

Entah mungkin belum ada tarikan di diriku untuk memulai menulis lagi, atau memang aku terperosok dalam ceruk yang menyerap imajinasiku.

Kali ini aku mau membahas tentang kesederhanaan.

Kata ini mungkin kalian elu-elukan untuk dilakukan, tapi banyak faktor yang menghalangi kalian untuk merealisasikannya.

Kesederhanaan tak butuh banyak alasan.

Sebagaimana laron merindukan cercah cahaya. Tak ada keraguan yang membayanginya untuk mendekat ke sumber cahaya, walaupun setelah itu dia akan mati karena terlalu panas, atau sayapnya terlepas.

Sebagaimana dandelion yang merindukan angin. Dia lahir dari bibit yang terbawa angin, tumbuh subur dan kemudian merelakan bunga nya terbang bersama angin untuk mendarat di tempat lain lagi.

Mengapa semua hal perlu kita jadikan rumit?

Ketika kamu teringat seseorang dan merindukannya, tidak ada salahnya untuk segera memulai sebuah percakapan yang menjembatani jarak diantara kalian.

Sebagaimana aku merindukan mu dan ku katakan dengan menatap mu. Mengapa perlu ada ego dan malu. Jika memang itu yang kurasa. Jika memang itu yang kupikir.

Ketika kamu tidak suka dengan perbuatan orang lain pada mu. Berhenti sejenak dan sampaikan padanya apa yang tidak kau sukai. Mengabaikan hal tersebut dan membiarkannya menumpuk dalam pikiranmu hanya menjadi racun kesalahpahaman yang tak kunjung usai. 

Racun tak perlu disimpan, rindu tak perlu disembunyikan.

Hal yang sederhana tidak memerlukan pikiran rumit berkelumit. Hal yang sederhana hanya memerlukan kejujuran dan keberanian untuk mengungkapkannya. 

Hidup sudah cukup rumit untuk dijalani, cukup sederhanakan hal-hal sederhana. Biar mudah kau jalani hari mu.

:)

Diselesaikan di KRL, 030416 setelah tertidur 1 bulan.

Saturday, April 2, 2016

Tidak takut

Bungkamlah maka ku kan berteriak.

Matikanlah suara ku maka ku kan menulis.

Halangkan pilihan ku maka ku kan membuka jalan baru.

Teriakan ku kan menggema.

Tulisan ku kan terbaca.

Jalan ku kan menerobos.

Ada kala aku takut.

Namun lebih banyak alasan untuk tegakkan kepala dan berkata "hanya itu mampu mu?".

Aku tidak takut.

020416

Sunday, March 27, 2016

Acuh

Tak bisa kupalingkan wajah dari mu.

Tak bisa pula ku pergi menyendirikan mu.

Ada pilihan tuk acuh.

Ada pilihan tuk abai.

Namun kuhempas keduanya.

Berkali kulihat semua terulang.

Semusim tenang semusim badai.

Semusim senang semusim melempar kesalahan.

Bukan aku pembuat keputusan.

Bukan aku sebab atas masalah.

Bukan pula aku pemerannya.

Aku hanya penonton.

Yang acap punya pilihan tuk acuh dan abai.

Mana hitam mana putih tersarukan ego setinggi langit.

Beribu pilihan tersapu kata jika.

Hei dia yang berkata paling benar.

Berkaca lah.

Hanya ego berbalut takut yang kamu tawarkan.

Hal semu dianggap kebahagiaan.

Hal nyata dibuang jauh.

Pulang dan buat cerita berbeda pada buku mu.

28 maret 2016