Monday, September 29, 2014

Trip (gratisan) ke Thailand

Masih ingat dengan tulisanku sebelumnya yang bilang aku dapet paket tur 4 hari 3 malam ke Thailand gratis?
Bersama 1 rombongan Tour Suka-Suka
Yap yap, tanggal 11-14 September 2014 lalu aku dan mama berangkat ke Thailand untuk menikmati paket tur ini.

Berhubung paket gratisan hanya untuk 1 orang, dan orang tua ku tidak mengijinkan aku berangkat sendirian, alhasil Ajik membeli paket tur untuk mama. Trip kali ini bawa pengawal VIP (aku yang dikawal atau aku yang mengawal? haha).
With Mama (bodyguard VIP) di Grand Palace

Tur kali ini aku ikut travel agent Ayo Wisata (googling for more info). Paketnya fokus jalan-jalan ke Bangkok dan ke Pattaya. Jadwal tur padat bangeeeettt.. Pemberhentian di setiap tempat juga ndak lama. Ya soalnya Bangkok dan Pattaya itu jarak tempuhnya 3 jam (tanpa macet), ibarat jakarta bandung lah.

Ada apa saja di Bangkok n Pattaya kayanya ga perlu diceritain terlalu detail. Do your own research (sebel ga bacanya) googling juga banyak sih yang sudah menceritakan. Inti perjalanannya shopping sampai dompet bolong, pertunjukkan cabaret dari mba-mba transgender yang cantik-cantik banget, thai massage yang super duper enaaaaaakkkk, thai tea, tom yum yang lebih asam dari biasanya dan kuliner lainnya.

yang cantik dari Pattaya
Kali ini aku mau fokus cerita tentang perhatian pemerintah Thailand terhadap pariwisata, yang menurut ku seharusnya bisa diterapkan di Indonesia.


Jadi berdasarkan info dari tour guide ku, setiap wisatawan yang datang dengan menggunakan jasa tour guide WAJIB mengunjungi minimal 3 tempat wisata


yang dikelola oleh kerajaan yaitu:
1. toko kerajinan kulit yang menjual berbagai macam kerajinan berbahan dasar kulit. Mulai dari dompet, tas, tempat kartu nama dan lainnya. Yang unik jenis kulit yang dijual juga beragam dari kulit ular, sapi, kambing, singa, macan, zebra, gajah, ikan pari, ikan hiu, juga berbagai hewan melata. (kalau dari sisi harga tetep lebih murah produksi Manding, Mbantul, D. I. Yogyakarta, Indonesia)
2. toko madu yang menjual jenis-jenis produk dari lebah madu seperti madu, royal jelly, dll. Disini kita disuruh mendengarkan presentasi dari penjualnya yang fasih banget bahasa Indonesia dan penuh semangat memeragakan belasan cara membedakan madu asli dan madu palsu (si bapak ngakunya berasal dari medan).
3. toko perhiasan batu permata yang menjual berbagai batu-batu berharga dari ruby, berlian dan lainnya, seperti biasa ada presentasi singkat terkait batu permata berdasarkan hari bulan kelahiran dan proses pembuatannya. Harga perhiasan nya ya standar lah (standar tetep mahal dan bikin mikir belinya maksudku).
4. toko obat-obat herbal yang menjual berbagai produk inovasi dari bahan herbal (red. Jamu bentuk kapsul, bantal yang bisa dioven, ikat pinggang dan lainnya). Lagi dan lagi kita harus mendengarkan presentasi pembuatan serta khasiat dari berbagai formula yang dibuat, yang presentasi saat ini shinsei yang sudah berumur 70 keatas dengan bahasa indonesia yang terbata-bata tapi penuh semangat, ekspresif dan penuh drama ala tukang obat.
5. toko coklat, ya coklat disini sama dengan coklat pada umumnya, jadi tidak akan aku ceritakan lengkap. Bahkan menurutku pribadi coklat Monggo di Jogja lebih enak rasanya daripada toko coklat ini. hehe.

Jadi setiap wisatawan WAJIB, sekali lagi, WAJIB untuk mendatangi 3 tempat tersebut. Setiap Guide yang mengantar wisatawan akan dibekali dengan kartu absen yang wajib mendapatkan cap di minimal 3 tempat tersebut.

Untuk di Toko Kerajinan Kulit apabila tidak ada yang membeli sesuatu, maka guide nya kena denda sejumlah uang. Untuk di toko lainnya tidak ada denda seperti ini. Selain itu apabila rombongan wisatawan tidak mengunjungi minimal 3 tempat maka guide yang memimpin rombongan tidak boleh membawa rombogan wisatawan untuk waktu 15 hari.

Yang jelas ketika kita masuk toko-toko diatas, kita akan diberi semacam kartu bon belanja, apabila tidak membeli sesuatu maka kartu itu wajib dimasukan dalam kotak kaca dan setiap kartunya dihargai 10 Bath yang akan disalurkan kepada Panti Asuhan di Thailand. Ini ide yang sangat bagus menurutku, ya semacam bunyi pasal dalam UUD "Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara" .

Selain itu setiap tahunnya Pemerintah Thailand memiliki target kunjungan untuk setiap negaranya. Kalau ga salah, target kunjungan wisatawan Indonesia sampai bulan September ini baru tembus sekitar 50% nya. Pemerintah Indonesia punya juga semacam target kunjungan seinget ku, tapi ga tau sedetail apa.

Pariwisata di Thailand diatur dengan baik serta memberdayakan masyarakat sekitar, hal ini yang aku lihat ketika mengunjungi taman bunga Ny. Naangnoch dengan pertunjukkannya yang aku lihat memberdayakan masyarakat di desa sekitar taman bunga, anak-anak para pengisi acara juga diikutsertakan dalam pertunjukkan serta membantu menjual makanan untuk gajah-gajah disana.
Pertunjukkan di Tamam Bunga Ny. Naangnoch
Pariwisata itu bukan hanya tentang orang dari berbagai tempat datang ke suatu daerah, tapi bagaimana potensi pariwisata tersebut bisa memiliki nilai tambah bukan hanya berupa devisa bagi pemerintah namun juga nilai tambah bagi perekonomian masyarakat sekitarnya.

Usaha pariwisata itu tidak bisa melihat satu sisi saja, karena untuk pengembangan parisiwata di suatu tempat kita harus melihat dari segala sisi. Bagaimana akses ke daerah serta jenis alat transportasi lainnya yang dapat menjangkau tempat tersebut, apakah sarana prasarana yang ada telah menunjang kebutuhan para wisatawan, pengembangan makanan atau kerajinan lokal sebagai oleh-oleh khas dengan kemasan yang memudahkan wisatawan membawa pulang, aturan mengenai pembuangan sampah (ga lucu kan tempat wisata penuh dengan sampah), pendidikan kebudayaan lokal, pendidikan sadar wisata dan peningkatan kemampuan berbahasa asing juga harus menjadi perhatian pemerintah. Aaakk sebenernya banyak banget hal yang harus dipersiapkan untuk mendukung usaha pariwisata.

Pemerintah dan masyarakat harus sadar bahwa potensi pendapatan yang bisa diperoleh dari bidang Pariwisata sangat lah besar. Namun, dalam rangka menjalankan usaha pariwisata, pemerintah juga harus memperhatikan usaha pemberdayaan masyarakat. Hal ini menjadi SANGAT PENTING, karena jangan sampai meningkatnya pariwisata di suatu daerah menyebabkan masyarakat sekitar hanya jadi pekerja kasar atau bahkan hanya jadi penonton. Sisi negatif pariwisata menurut ku mulai terjadi di Bali. Banyaknya tanah yang dijual kepada para pemilik modal, adanya kebanggaan "hanya" menjadi pekerja di hotel, rental mobil, atau bahkan calo jual beli tanah menyebabkan semakin tersingkirnya warga Bali. Ketika hal ini terjadi, tentunya ada yang salah dengan pengelolaan pariwisata di Bali. Pariwisata itu haruslah dikelola secara sinergi antara pemerintah, masyarakat dan pemilik modal. Perubahan pola pengelolaan usaha pariwisata memang perlu segera dilakukan untuk menghindari atau mengurangi dampak negatif dari pariwisata.

salam dari Mr. M.J (alm)
Hal ini merupakan pandangan ku sebagai penikmat hidup. Pariwisata harus dikembangkan dengan turut serta melakukan pemberdayaan masyarakat. Yuk kapan kita kemana?

with mami :*
-Bekasi, diselesaikan 29 September 2014-
Karena hidup itu adalah perjalanan, maka nikmatilah setiap detiknya..

Friday, August 29, 2014

Pergilah. Berpetualanglah. Hiduplah

Angin ku berhembus menyentuh tengkuk ku  sembari berbisik dengan lembut

"Tunggu aku. Aku kan datang lagi"

Angin ku pun pergi mengayuhkan dirinya dalam gelapnya malam.

Berlari kesana kemari mencari ujung dunia.

Meninggalkan ku termenung dalam gelap.

---------------------------------------------------

Ujung dunia?

Tidak kah dia mengerti bahwa dunia ini berbentuk bulat?

Lalu, dimana itu ujung dunia yang dia cari?

Tapi aku (tak) peduli. 

Pergilah. Berpetualanglah. Hiduplah.
Aku mendukungmu.

---------------------------------------------------


MMIK Law Office, 28 Agustus 2014
sebuah tulisan yang tak memerlukan alasan untuk penulisannya


Monday, August 25, 2014

Generasi Ibu Jari

Tulisan ini didasari atas pengamatan ku pada diriku sendiri.

Terkesan narsis sih ya, kok mengamati diri sendiri, tapi ya inilah adanya.

Aku katanya Generasi 90-an. Aku juga menyebut diriku sebagai bagian dari Generasi Ibu Jari.

Kenapa seperti itu? hmmm.. Penjelasannya mudah, coba kalian ingat hal pertama yang kalian lakukan saat bangun tidur.

Kalau aku, dengan pose masih bobo unyu dan mata belum membuka dengan sempurna, akan langsung mencari handphone dan tablet ku hanya untuk melihat apakah ada orang yang menghubungi ku atau sekedar aktivitas di social media. *Pose Mager (males gerak) yang ga banget sih*
images

Ibu jari akan langsung mengetak ketik dengan cepat di atas keyboard handphone.

- Hal diatas juga berlaku mutandis mutantis untuk malam hari sebelum tidur -

Memang komunikasi sekarang dipermudah dengan berbagai layanan chatting  dan media sosial dari berbagai aplikasi.

Pengamatan ku pada diriku sendiri juga pada saat berencana membuat suatu acara. Walaupun aku bukan IO (Ipen Orgenizer alias Event Organizer - bahasa ala anak Smash STTYB Pura Bekasi) profesional, tapi dari dulu memang aku senang membuat acara ngumpul. Aku senang berkumpul dengan teman-teman itulah kenapa kalau tidak ada yang menjadi IO untuk mengumpulkan dan menyebarkan informasi, maka aku akan turun tangan.

Alasannya sederhana, tanpa ada orang yang mulai bergerak apapun rencana kita tentu akan susah untuk terlaksana.

"Karena sebuah Mimpi tanpa Realisasi hanyalah WACANA"
images

Generasi Ibu Jari ini lah yang memudahkan kita menyebarluaskan informasi tersebut.

Kontak teman-teman di BB ku juga sudah tersortir sesuai dengan organisasi atau lingkaran pertemanan kami. Inilah yang memudahkan aku menyebar informasi.

Kalau info hanya untuk kawan-kawan Keluarga FH UGM Angkatan 2007 ya tinggal masukan list mereka dalam daftar broadcast message nya, begitu pula ketika menyebarkan info ke lingkaran pertemanan lainnya.

Berbelanja, memesan bunga, bahkan memesan kue pun bisa dilakukan dengan bermodalkan ibu jari. Membayar semua yang dipesan juga bisa menggunakan internet atau mobile banking, DONE! tanpa kalian harus beranjak dari kasur.

Generasi Ibu Jari mendekatkan kita, di sisi lain kita juga harus mengakui bahwa ketika kita terus melekatkan gadget kita ke tangan kita, semakin jauh juga kita dengan orang disekitar kita. Ya hal ini pintar-pintar nya kita mengelola kapan si Ibu Jari bergerak dan kapan kita berhadapan langsung dengan lawan bicara kita.

Dibalik semua kerempongan yang kulakukan, aku dapat bergerak karena ada barisan suporter yang ikut turun tangan menyebarluaskan acara, yang mau ikut serta segala kerempongan bersama, membantu berpikir dan merealisasikan mimpi berkumpul ini. Barisan inilah yang merupakan sumber semangat ku. Barisan inilah yang merupakan rantai dari Gerakan Ibu Jari.

Yosshh!! ayo semangat  Gerakan Ibu Jari mu, buat segaris senyum itu melekat pada wajah teman-teman mu, pada wajah orang disekitarmu. Karena untuk menjadi orang yang berguna tak bisa dilakukan ketika kita hanya berpangku tangan, setidaknya cukup dengan menggunakan Ibu Jari mu kamu bisa menjadi Generasi Ibu Jari yang berguna untuk sesama.

"Sebuah mimpi, sekecil apapun itu, adalah awal dari terciptanya HAL BESAR" 

Salam Generasi Ibu Jari
MMIK Law Office, diselesaikan 25 Agustus 2014.

NB: monggo dibaca juga tulisan mengenai Generasi Ibu Jari karya adek KMHD ku yang ganteng Made Bhela Sanjibhuana --> judul ini kupakai juga terinspirasi karena pernah membaca tulisan Bhela diatas.

Monday, August 11, 2014

Nama

“What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” (Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi) - William Shakespeare-

Hai kawan.

Dalam lingkungan sosial kita, panggilan kepada seorang wanita akan berubah mengikuti status yang dimilikinya.

Seorang anak perempuan akan dipanggil dengan namanya sendiri, ya mungkin juga diikuti dengan tambahan penjelasan siapa orang tua dari anak itu.

Namun, ketika menikah wanita tersebut akan mengalami perubahan nama menjadi "Bu xxx" atau "Nyonya xxx" (xxx = nama suami),

Ketika memiliki anak mungkin saja panggilan tersebut akan berubah lagi menjadi "Ibu yyy" "Mama yyy" (yyy = nama anak).

Bukankah orang tuanya memberikan nama sendiri baginya untuk memudahkan orang lain memanggilnya?

Lalu kenapa harus berubah?

Apabila ternyata wanita tersebut berpisah dengan suaminya? Lalu bagaimana lingkungan akan memanggilnya?

Ya.. apalah arti sebuah nama? Tapi menurutku pribadi, arti nama itu penting. Perubahan nama tersebut dapat saja diartikan sebagai penghilangan eksistensi dari wanita tersebut dalam kehidupan. Sejarah tidak lagi mencatat tentang wanita tersebut. Sejarah yang akan tertulis selanjutnya hanyalah keberadaan wanita tersebut sebagai bayangan dari suaminya, dari anaknya. Apapun keberhasilan, kesuksesan, kegagalan yang diraihnya semata-mata karena suaminya, karena anaknya, karena dirinya hanya hidup dalam bayangan. Tidak ada lagi sosok wanita itu di dunia.

Lalu dimana letak kehidupan apabila hidup dalam bayangan?

image


MMIK Law Office, 12 Agustus 2014.

Friday, August 1, 2014

Agustus 2014

Hai bulan kedelapan di tahun ini.

Hai Agustus.

Bulan ini di tahun lalu adalah bulan dimana petualangan 4 wanita, 9 hari, dan 5 propinsi dimulai.

Bulan ini di tahun lalu adalah bulan dimana pertama kalinya kaki ini menapakkan dirinya pada tanah tertinggi di Gunung Lawu.

Bulan ini di tahun lalu adalah bulan dimana sebuah perjalanan keliling kota, mendaki gunung, mengarungi sungai, menghempaskan diri dari tebing, bersantai di pantai, dan memancing di kolam payau.

Bulan ini di tahun lalu adalah bulan dimana upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia kembali memperoleh kesakralannya di hati kami.

Bulan ini di tahun lalu adalah bulan dimana persahabatan yang terjalin membuka jalan dan menjadi modal kebahagiaan pada setiap langkahnya.

Bulan ini di tahun lalu adalah sebuah awal dari cerita baru.

Welcome August

Hai kawan.

Lalu, apa cerita kalian di bulan ini di tahun ini?


-Bekasi, 2 Agustus 2014-
Sebuah pengingat tentang 1 tahun lalu.